Day 1 "Mengunjungi Kakek dan Nenek"
Bismillahi....
Mbu Ni memulai jurnal ini dengan mengulangi lagi sebuah ilmu yang sering diulang-ulang oleh para gurunda kami baik di kelas perkuliahan talens mapping, rampudi, be motocation, portofolio anak dan fitrah base education.
Ditekankan oleh beliau semua hal senada yaitu anak usia dini adalah seorang raja, baginya seluruh semesta berputar hanya untuk dirinya. Ia hanya ingin dilayani dan diperhatikan secara utuh. Orang tua berperan sebagai fasilitator dan teladan.
Khususnya di usia bayi 0-2 tahun dunia bermainnya yaitu tubuh orang tuanya bukan hal lain. Hal lain hanya pendamping stimulasi. Peran penting ibulah yang sangat ia butuhkan.
Ada 4 domain yang penting ditumbuhkan bagi anak usia dini, yaitu :
1. Psikomotorik
2. Fitrah keimanan/akidah
3. Pengembangan Emosional
4. Ego dan individualitas
Catatan kami hari pertama ini adalah mengenai perjalanan kami mengunjungi kakek dan nenek (tante/kakak dari ibu Mbu Ni) di kota Balikpapan. Baby HA yang notabene baru pertama kali bertemu mereka punya pengalaman baru.
Kami mulai dengan bersiap berangkat, seperti biasa baby HA untuk perjalan jauh/cukup lama kami kenalkan dengan pakaian tertutup dan khimar. Namun jika di rumah saja ia dapat menggunakan baju pendek untuk memenuhi hak syariatnya selayaknya anak bayi.
Catatan saya di perkuliahan Rampudi memberikan hak anak usia dini untuk bebas memilih pakaian atau menggunakan pakaian yang tidak tertutup. Namun memberi teladan bagaimana ibu bersemangat berkhimar saat keluar rumah atau ada tamu yang bukan mahrom.
Namun namanya baby ia bisa bertahan memakai khimar bisa sepanjang jalan ataupun bisa segera bosan dan kami mengutamakan haknya untuk bebas karena memang kewajiban syariat belum jatuh pada usianya. Namun saat menggunakan khimar kami akan penuhi bahasa cinta seperti memberi pelukan, memuji dengan kalimat "cantiknya, mantaben". Hingga ia akan tersenyum senang.
Sesampai di rumah nenek baby HA menangis karena sang nenek begitu senang melihat kedatangan cucunya yang tidak ia sangka, kami memang memberikan kejutan pada beliau. Sang nenek segera menggendong cucunya padahal sang cucu merasa "alarm orang asing" berbunyi.
Mbu Ni memang memberi kebebasan baby berpakaian dan bermain tapi dengan penjagaan mengingat banyaknya kasus. Maka Ni akan sering-sering sounding "boleh main atau digendong orang lain tapi atas izin Mbu atau Yayah, kalau Hafidzah kurang nyaman boleh menangis kok".
Saya memberi ia kebebasan mengekspresikan emosinya dengan menangis. Sebagaimana ilmu yang saya fahami ketika anak pandai mengekspresikan emosinya, ia akan tumbuh jadi pribadi yang bijak mengambil keputusan kedepannya. Selain itu ia akan tau menghargai dan melindungi dirinya.
Kami memberikan contoh saat mengunjungi orang tua, tidak lupa mengucapkan salam dan mencium tangan orang tua dengan takzim.
Sementara itu baby HA menangis lagi saat nenek menggendongnya setelah berganti baju karena BAB. Rupanya ia masih merasa asing sedangkan sang nenek gemas melihat cucunya tersenyum namun tak mau digendong. Hal inipun jadi tantangan kami dalam silaturahmi ini. Kejadian serupa juga dulu terjadi saat kami mudik. Baby HA menangis saat pertama bertemu kakek Thamrin (bapak dari Mbu Ni) di bandara dan butuh beberapa hari ditambah sounding untuk memberi pemahaman bahwa itu orang baik kok, Hafidzah boleh main dengan kakek. Begitu pula yang terjadi saat kunjungan kami ke Balikpapan.
Strategi pertama digendong Yayah sambil tetap bermain dengan nenek. Membiarkan dia mengamati dulu neneknya secara utuh. Karena bayi usia 6 bulan memang telah mengenali wajah orang tua yang mengasuhnya sehingga tidak nyaman jika digendong orang baru.
Menurut Alice Sterling Honig, Ph.D, Profesor perkembangan anak dari Universitas Syracuse, New York. Bayi mengenali dan menyukai aroma ibunya. Sebagian besar bayi awalnya mengenali aroma tubuh ibunya saat mereka mendekatkan hidung di antara dagu dan pundak Ibu yaitu posisi digendong. Dengan begitu ia bisa membedakan mana ibunya dan mana orang asing.
Beberapa hal dipelajari oleh bayi sejak ia dalam kandung hingga lahir dan selama proses tumbuh kembang yaitu tentang ibunya dengan cara :
1. Mengenali suara ibu
2. Aroma tubuh ibu
3. Ibu sumber kehidupan (ASI)
4. Raut wajah
5. Membedakan gender
Mendampingi sang bayi saat ia bersama orang lain adalah salah satu bentuk pengembangan emosi anak karena ibu dapat membantu anak usia dini untuk melabeli emosinya.
Saat ia menangis ibu memberikan pelukan, memberikan sounding menenangkan, memberi jedah waktu untuk memutuskan mau/tidak digendong orang lain, memberi hadiah berupa kecupan pipi juga cemilan baby dan melayani keperluannya saat akan bermain dengan benda sekitarnya. Memenuhi tangki 5 bahasa kasih karena bayi belum bisa berbicara untuk ditanyai bahasa kasihnya.
Memenuhi 5 bahasa kasih juga membantu melabeli emosi anak usia dini maka akan mudah baginya untuk siap serius, optimis, positif dan bijak dimasa dewasanya.
Demikian catatan dari kami hari ini. Mbu Ni dan sahabat terbaiknya baby Hafidzah. Terima kasih.
Referensi :
- Catatan kuliah Rampudi
- Catatan kuliah Be motocation
- Catatan kuliah portofolio anak
- https://schoolofparenting.id/bayi-bisa-mengenali-ibunya-bagaimana-caranya/
#harike1
#tantangan15hari
#zona3cerdasemosidanspiritual
#pantaibentangpetualang
#institutibuprofesional
#petualangbahagia
#familyproject
#sahabatterbaik